BASIS ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI INOVASI DI BIDANG PERTANIAN
MENDENGAR SAYA LUPA ,MELIHAT SAYA INGAT,MENCOBA SAYA PAHAM MELAKSANAKAN SAYA MAHIR .

Senin, 23 Oktober 2023

Budi Daya Padi Sawah di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Padi Sawah di Lahan Pasang Surut PENDAHULUAN Usahatani padi di lahan sawah pasang surut memerlukan teknik budi daya tersendiri, karena keadaan tanah dan lingkungannya tidak serupa dengan lahan sawah irigasi. Kesalahan budi daya dapat menyebabkan gagalnya panen dan dapat pula merusak tanah dan lingkungan. Berdasarkan tipe luapan air, padi sawah dapat dibudidayakan pada lahan bertipe luapan air A, B, atau C yang telah menjadi sawah tadah hujan. Lahan yang bertipe luapan air A adalah lahan yang selalu terluapi air, baik pada saat pasang besar maupun kecil. Tipe B hanya terluapi air pada saat pasang besar saja. Sedangkan lahan tipe C lahan tidak terluapi air pasang, namun air tanahnya dangkal. Lahan pasang surut juga dapat ditanami padi gogo, tetapi teknik budi dayanya berbeda dengan padi sawah. Dalam buku ini hanya diuraikan tentang teknik budi daya padi sawah di lahan pasang surut. PENYIAPAN LAHAN DAN PENGELOLAAN AIR Penyiapan lahan terdiri dari: - Penebasan rumput-rumput/belukar. Penebasan dilakukan dengan menggunakan parang. Rumput/belukar yang sudah ditebas dikumpulkan di suatu tempat kemudian dibakar. - Pengolahan tanah. - Pelumpuran dan perataan tanah. Pengolahan tanah dilakukan dua tahap. Setelah pengolahan tahap pertama, tanah digenangi, agar zat beracun terpisah dari tanah. Tinggi air genangan berkisar antara 5 - 10 cm. Untuk mengatur tinggi air genangan dapat dilakukan dengan memperbesar atau memperkecil bukaan pintu saluran air. Pengolahan tanah tahap kedua dilakukan dua minggu setelah pengolahan pertama. Alat untuk mengolah tanah dapat menggunakan: - Cangkul. - Traktor. - Bajak yang ditarik sapi/kerbau. Kedalaman pengolahan tanah sekitar 20-25 cm, jika terlalu dalam dapat menyebabkan terangkatnya lapisan pirit (lapisan beracun). Pirit ini dapat meracuni tanaman dan berakibat tanaman mati. Untuk membuang zat beracun di tanah, perlu dibuat saluran cacing (kemalir) dengan ukuran sebagai berikut: - Lebar saluran 30 cm. - Kedalaman 20 cm. - Jarak antar saluran berkisar antara 6-10 m. Selain di dalam petakan, dibuat juga saluran di sekeliling petakan. VARIETAS Beberapa varietas padi sawah yang sesuai di lahan pasang surut telah disebarluaskan di beberapa wilayah pasang surut. Melihat potensi hasil rata-rata 4-7 ton/ha, varietas unggul ini dapat meningkatkan pendapatan petani khususnya di lahan pasang surut ini. Varietas padi sawah yang dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di lahan sawah pasang surut . BENIH Syarat benih yang dipakai: - Bermutu tinggi (daya kecambah lebih dari 90%). - Tidak tercampur dengan jenis padi atau biji tanaman lain. - Jumlah benih 30-15 kg per hektar. Cara menentukan mutu benih yang akan dipakai: - Siapkan kain ukuran 20 cm x 30 cm. - Siapkan benih sebanyak 100 butir kemudian di rendam dalam air selama ± 2 jam. - Benih yang sudah direndam diletakkan di atas kain yang sudah dibasahi (lembab). Tunggu 3 - 5 hari, kemudian hitung benih yang berkecambah: Kalau benih yang berkecambah lebih dari 90 butir, berarti benih tersebut bermutu tinggi. PERSEMAIAN Persemaian dapat dibuat dengan dua cara yaitu persemaian basah dan kering. Persemaian basah - Benih direndam selama 12-24 jam, kemudian diangkat dan dibiarkan berkecambah selama 1-2 hari. - Persemaian dibuat pada lahan yang berair (macak-macak) dan tidak terluapi air pada saat pasang. - Luas lahan persemaian 300-500 m2 untuk setiap hektar pertanaman. - Tanah untuk persemaian diolah dua kali (sempurna), bersih dari rumput, belukar, sisa-sisa tanaman, kayu, batu, atau lainnya. - Kemudian tanah diratakan dan diberi pupuk. - Takaran pupuk untuk setiap meter persegi persemaian: 10 gram urea + 10 gram TSP (atau 14 gram SP 36) + 10 gram KCI. Persemaian kering Persemaian kering pada dasamya sama dengan persemaian basah. - Tempat persemaian dibuat di guludan. - Benih langsung disemai tanpa direndam. Setelah disemai di taburi dengan tanah halus atau abu sekam. - Untuk mencegah serangan hama orong-orong, benih dicampur dengan insektisida seperti Furadan 3G sebanyak 1 gram untuk setiap 1 m2 persemaian. - Untuk mencegah penyakit blas benih dicampur dengan fungisida seperti Benlate T 20 WP (Benomil) sebanyak 1 gram untuk setiap kilogram benih. PENANAMAN Untuk keberhasilan usahatani padi di lahan pasang surut berikut ini dianjurkan varietas-varietas yang ditanam menurut berbagai tipe lahan dan musim. Di lahan pasang surut yang bertipe luapan A dan B, padi sawah dapat diusahakan dua kali setahun. WAKTU TANAM - Musim tanam pertama, penanaman dilakukan pertengahan Oktober sampai awal November. - Musim tanam kedua, penanaman dilakukan pertengahan Maret sampai awal April. Cara penanaman: tandur jajar - Keuntungan: - Mudah melakukan penyiangan. - Mudah melakukan penyemprotan. - Mudah melakukan panen. - Kesulitan: - Tenaga kerja lebih banyak kalau belum berpengalaman. - Jarak tanam - lahan potensial 25 cm x 25 cm - lahan sulfat masam 20 cm x 20 cm - lahan bergambut 20 cm x 20 cm Jumlah bibit : 3 - 4 batang setiap rumpun. PENYIANGAN DAN PENYULAMAN Penyiangan dilakukan dua kali yaitu: - Penyiangan pertama umur 3 minggu setelah tanam. - Penyiangan kedua umur 6 minggu setelah tanam. Penyiangan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: - Dicabut dengan tangan, kemudian dipendam dalam tanah. - Menggunakah alat siang (gasrok). - Menggunakan herbisida antara lain DMA-6, Gramoxone, dengan takaran 3-4 liter per hektar dengan volume semprot 400-500 liter per hektar. Apabila ada tanaman yang mati, diadakan penyulaman (umur 1-2 minggu) dengan cara: - Menggunakan bibit yang masih tersedia. - Menyapih tanaman yang sudah tumbuh. Pemupukan Takaran pupuk untuk setiap lokasi berbeda, tergantung pada tipologi lahannya (Tabel 3). Cara pemberian pupuk - Disebar rata di permukaan lahan. - Keadaan air sawah pada saat memupuk harus macak-macak. - Pengapuran penting artinya untuk menurunkan kemasaman tanah, terutama pada lahan sulfat masam. - Takaran kapur: 1 ton per hektar. - Waktu pengapuran: 2 minggu sebelum tanam. - Keadaan air tanah pada saat pengapuran harus macak-macak. PERLINDUNGAN TANAMAN Hama yang banyak menyerang pertanaman padi di lahan pasang surut adalah: tikus, Orong-orong, Kepinding tanah (lembing batu), Walang sangit, Wereng coklat. Sedangkan penyakit utama di lahan pasang surut adalah blas. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan: - Memelihara kebersihan lingkungan - Penanaman serempak (satu hamparan sekunder). - Pemasangan umpan beracun, dengan racun Klerat RMB sebanyak 2 kg per hektar, dan diletakkan di beberapa tempat. - Melaksanakan gropyokan atau pengemposan menggunakan belerang. Hama orong-orong dapat dikendalikan dengan cara: - Menggenangi lahan - Merendam bibit sebelum tanam dalam larutan pestisida karbofuran (Curater 3G, Dharmafur, atau Furadan 3G). Kepinding tanah dikendalikan dengan menyemprotkan pestisida sebanyak 1 - 2 liter/ha. Penyakit blas dikendalikan dengan: - Menyemprotkan fungisida Beam atau Fujiwan sebanyak 1 - 2 kg per hektar. - Menanam varietas yang tahan bias. - Tidak menggunakan pupuk N secara berlebihan/melebihi takaran. PANEN DAN PASCAPANEN Panen Panen dilakukan pada saat tanaman padi menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: - Sebagian besar gabah (90%) sudah berwarna kuning. - Bila digigit gabah patah. Panen dapat dilakukan dengan menggunakan alat sebagai berikut: - Sabit bergerigi - Reaper - Stripper. Kehilangan hasil pada saat panen dapat dihindari dengan usaha-usaha sebagai berikut: - Panen tepat waktu. - Setelah disabit langsung dirontok (paling lambat 1 hari). - Saat merontok menggunakan alas (tikar atau terpal). Pascapanen Perontokan gabah dapat dilakukan dengan cara: - Gebuk (gepyokan = istilah petani Karang Agung, Sumatera Selatan). - Menggunakan mesin/alat perontok seperti tresher dan erekan. Setelah dirontok, gabah dijemur di atas terpal atau lantai jemuran. Ketebalan gabah pada saat dijemur tidak lebih dari 5 cm. Selama penjemuran, gabah dibolak balik. Lama penjemuran sekitar 2 - 3 hari dalam keadaan panas terik. Gabah yang sudah kering dibersihkan dari kotoran, gabah hampa, dan malai yang masih tersisa. Alat pembersih gabah dapat menggunakan tampah dan alat/mesin pembersih (seed cleaner). Gabah yang sudah kering dan bersih dimasukkan ke karung untuk disimpan, digiling, atau dipasarkan. ANALISIS USAHATANI Usahatani padi di lahan pasang surut sangat menguntungkan jika diusahakan secara hati-hati sesuai dengan tipologi lahannya serta mampu mengendalikan serangan hama tikus.

Kamis, 29 September 2022

Panen dan Pasca Panen Jeruk

Panen dan Pasca Panen Jeruk Jeruk termasuk salah satu jenis buah-buahan yang dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan dan untuk pengobatan (terapi) bermacam-macam penyakit. Hal ini karena buah jeruk merupakan sumber Vitamin C, vitamin A dan Flavonoid yang baik untuk meningkatkan system pertahanan tubuh. Buah jeruk sebagai bahan makanan buah-buahan mengandung zat-zat gizi yang cukup lengkap sehingga apabila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan. Kombinasi kandungan Vitamin C dan Flavonoid pada buah jeruk berperan sebagai antioksidan yang sangat baik untuk memperkuat system pertahanan tubuh, mendukung jaringan kolektif, dan mencegah proses penuaan. Adapun kandungan pektinnya dapat menurunkan tingkat kolesterol darah. Namun sayang, buah jeruk yang banyak mengandung zat-zat gizi dan bermanfaat bagi tubuh manusia dapat menurunkan kualitas buah jeruk itu sendiri. Hal ini bila dilakukan pemanenan buah jeruk tidak sesuai dengan tingkat kematangan buah jeruk. Karena itu untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik, buah yang dipetik harus dalam keadaan matang dan sudah memiliki cita rasa manis kemasam-masaman aromanya baik. Buah jeruk yang dipetik belum matang, rasanya masih masam dan pahit, mudah berkerut atau keriput, sari buahnya sedikit dan buah tidak tahan disimpan lama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam panen dan pascapanen jeruk, yaitu : 1. Panen dan Waktu Panen Pemetikan buah jeruk tidak dapat dilakukan sekaligus karena buah jeruk tidak matang secara bersamaan. Pemetikan buah jeruk harus diutamakan pada buah-buah yang sudah matang. Buah jeruk yang telah mencapai derajat kematangan optimal memiliki tanda-tanda sebagai berikut : a. Kulit buah telah menguning (hijau kekuning-kuningan) dengan warna yang menarik, sehat dan segar. b. Permukaan kulit buah halus dan tekstur agak lunak. Terimakasih

Kamis, 03 September 2020

BOKASHI

BOKASHI (BAHAN ORGANIK KAYA AKAN SUMBER HAYATI) Bokashi adalah pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme. A. Pembuatan Bokashi Bahan pembuatan bokashi (jerami, rumput, pupuk hijau, pupuk kandang dan sebagainya) dapat berupa bahan yang sudah kering ataupun masih basah (segar). Ada beberapa jenis bokashi, yaitu : 1. Bokashi Jerami Bahan yang digunakan: a. Jerami sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah dipotong- potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm. b. Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg. c. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml). d. Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya. Cara pembuatan : a. Pertama-tama dibuat larutan dari EM4, molasses/ gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml :1 liter air. b. Bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering. c. Selanjutnya bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%). d. Adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50 o C. Jika suhu bahan melebihi 50 o C, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali. e. Setelah empat hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan ditumbuhi oleh jamur yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal. f. Bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. Jika bokashi ingin disimpan terlebih dahulu, maka bokashi harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara mengangin- anginkan di atas lantai hingga kering. Setelah kering bokashi dapat dikemas di dalam kantung plastik. Penggunaan : Bokashi jerami sangat baik digunakan untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah. 2. Bokashi Pupuk Kandang Bahan yang digunakan : a. Pupuk kandang sebanyak 15 kg. b. Sekam sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg. c. Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml). d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya. Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang. Penggunaan: Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami. Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah pada perbandingan 1:1. 3. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Arang Bahan yang digunakan : a. Pupuk kandang sebanyak 10 kg, dedak sebanyak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg. b. Molases\gula sebanyak dua sendok makan (10 ml). c. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya. Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang ditambah arang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan kotoran hewan (pupuk kandang) dan arang sekam\arang serbuk gergaji. 4. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Tanah Bahan yang digunakan : a. Pupuk kandang sebanyak 5 kg dan tanah sebanyak 10 kg. b. Arang sekam\arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg dan dedak halus sebanyak 5 kg. c. Molases/gula sebanyak dua sendok makan (10 ml). d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya. Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang tanah mirip dengan pembuatan bokashi pupuk kandang-arang, hanya perlu ditambahkan tanah. Penggunaan: Bokashi pupuk kandang-tanah baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah pada perbandingan 1:1. 5. Bokashi Ekspres (24 jam) Bahan yang digunakan : a. Jerami kering, daun kering, serbuk gergajian dan bahan lainnya sebanyak 10 kg. b. Pupuk kandng sebanyak 5 kg dan dedak sebanyak 1 kg. c. Molases\gula pasir sebanyak dua sendok makan (10 ml). d. EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya. Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi ekspres sama dengan cara pembuatan bokashi pupuk kandang-tanah, hanya bahan-bahan yang akan difermentasikan dicampur dengan bokashi yang sudah jadi dan dedak secara merata. Proses fermentasi hanya berlangsung selama 24 jam dan sesudahnya bahan dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik. Penggunaan : Bokashi ekspres sangat baik untuk dijadikan mulsa pada pertanaman sayuran dan buah-buahan. Cara penggunaan : Cara pengaplikasian bokashi adalah sebagai berikut : 1. Untuk lahan tegalan dan sawah Penggunaan bokashi untuk setiap meter perseginya adalah sekitar 3-4 genggam bokashi, kecuali pada tanah yang kurang subur dapat dilebihkan. Bokashi disebar merata di atas permukaan tanah. Pemberian dapat juga dilakukan dengan cara mencampur bokashi dan tanah. Hal ini dapat dilakukan pada waktu pengolahan tanah. Sedangkan pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan saat pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 30 hari. 2. Untuk tanaman buah-buahan Bokashi disebar secara merata di permukaan tanah atau di sekitar daerah perakaran. Selanjutnya larutan EM4 disiramkan dengan dosis 2 ml per liter air setiap dua minggu sekali. 3. Untuk pembibitan Lahan yang akan dijadikan sebagai tempat pembibitan disiram dengan larutan EM4 dengan dosis 2 ml per liter air. Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu minggu sebelum lahan siap untuk digunakan. B. Kegunaan Lain EM4 Selain untuk pembuatan bokashi, EM4 dapat juga digunakan sebagai pestisida organic seperti EM5, super EM5, EMRAS dan pestisida alami dari ekstrak tanaman. EM5 digunakan sebagai pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit tahap awal. Sedangkan Super EM5 digunakan untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tahap kronis. 1. EM5 dan Super EM5 Bahan yang digunakan : a. Molases/gula, cuka makan/cuka aren 5%, alcohol 40% masing-masing sebanyak 100 ml. b. EM4 100 ml dan air sebanyak 1 liter. (Khusus untuk pembuatan super EM5 tidak digunakan air). Cara pembuatan : a. Semua bahan dimasukkan ke dalam botol/jerigen. Selama 15 hari selanjutnya wadah dikocok pada pagi dan sore harinya. Unttuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, tutup botol dibuka sebentar. b. Kegiatan pengocokan dihentikan pada hari ke 15 setelah tidak ada lagi gas yang terbentuk. Selanjutnya dibiarkan selama tujuh hari. Selanjutnya EM5 dapat digunakan. Dosis pemakaian : a. EM5: 10-50 ml (2-10 sdm)/l air + 10-50 ml molasses. b. Super EM5: 5 ml (1 sdm)/l air + 5 ml molasses. Waktu pengaplikasian : Waktu pengaplikasian EM5 dan super EM5 sebaiknya dilakukan pada sore hari. EM5 dan super EM5 digunakan paling lama tiga bulan. 2. EMRAS (EM4 dengan air beras) Bahan yang digunakan : Bahan yang digunakan terdiri dari air beras sebanyak 1 l, molasses\gula sebanyak 10 ml dan EM4 sebanyak 10 ml (2 sdm). Cara pembuatan dan aplikasi : Bahan-bahan tersebut di atas dicampurkan semuanya dan selanjutnya dibiarkan selama dua hari. Setelah itu EMRAS dapat diaplikasikan. Namun EMRAS harus sudah habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS dapat juga digunakan sebagai pupuk. Dosis pemakaian: Dosis yang digunakan adalah 5 ml/l air. 3. Pestisida Alami dari Ekstrak Tanaman Bahan yang digunakan : a. Daun legum/kacang-kacangan (kacang babi), terutama yang masih muda. b. EM4 sebanyak 20 ml/l air. Cara pembuatan : Daun-daunan dicincang dan selanjutnya diberi larutan EM4. Bahan selanjutnya direndam selama 3-5 hari. Selama direndam bahan ditutupi dengan plastik hitam. Setelah lima hari larutan dapat digunakan sebagai pestisida. Dosis pemakaian : Dosis pemakaian adalah 5 ml/l air. “Berarti kalo untuk pot cuman beberapa sendok tuh.....ngirit bener....”

Sabtu, 26 Januari 2019

Teknologi Pengendalian Penyakit Antraknose atau Patek pada Tanaman Cabe

Teknologi Pengendalian Penyakit Antraknose atau Patek. Tanaman Cabai merupakan jenis sayur-sayuran yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Karena hampir seluruh masyarakat membutuhkan cabai dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini keadaan iklim yang tidak menentu sangat mempengaruhi harga cabai. Tanaman cabai sangat sensitif terhadap berbagai penyakit, terutama penyakit antraknose atau lebih dikenal istilah patek merupakan salah satu penyakit penting pada cabai keriting, cabai besar yang dapat menurunkan hasil antara 20–90% terutama pada saat musim penghujan. Sehingga tanaman cabai yang siap panen banyak yang membusuk. Akibat penurunan produksi ini, petani mengalami kerugian karena tidak bisa mencapai panen yang optimal. Patogen utama penyakit antraknose pada cabai di Indonesia paling banyak disebabkan oleh jamur Colletotrichum acutatum Simmon. Gejala serangan penyakit antraknose atau patek mula-mula membentuk bercak cokelat kehitaman kemudian menjadi busuk lunak. Pada tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang terdiri atas kelompok seta dan konidium jamur. Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna seperti merah jambu keabu-abuan atau kehitaman. Ledakan penyakit antraknos ini sangat cepat terutama pada saat musim penghujan. Jamur ini menyerang tanaman dengan menginfeksi jaringan buah dan membentuk bercak cokelat kehitaman yang kemudian meluas menjadi busuk lunak. Serangan yang berat menyebabkan buah mengering dan keriput serta berwana kuning dan kehitaman. Pada bagian tengah bercak yang mengering terlihat kumpulan titik-titik hitam dari koloni jamur. Ciri lain akibat serangan jamur ialah buah yang terserang terlihat bintik-bintik pada bagian tepi berwarna kuning, kemudian membesar dan memanjang. Pada kondisi lembab, jamur memiliki lingkaran memusat berwarna merah jambu atau abu-abu kehitaman. Teknologi Pengendalian Penyakit Antraknose atau Patek: 1. Gunakan benih sehat. Jangan menggunakan biji cabai yang sudah terinfeksi, karena spora jamur tersebut dapat bertahan pada benih cabai. 2. Tanamlah varietas cabai yang lebih tahan patek, biasanya rawit lokal lebih tahan terhadap penyakit patek 3. Gunakan agensia hayati antagonis atau memanfaatkan mikroba Pseudomonas fluorescens dan Bacillus subtilis 4. Gunakan agensia antagonis dengan memanfaatkan Trichoderma spp. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa Trichoderma dapat menghambat laju perkembangan jamur C. Acutatum penyebab penyakit antraknos. 5. Lakukan perendaman biji dalam air panas (sekitar 55oC) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0,05–0,1%) sebelum ditanam atau menggunakan agens hayati. 6. Lakukan penyemprotandengan fungisida atau agens hayati yang tepat terutama tanaman berumur 20 hari di persemaian atau 5 hari sebelum dipindahkan ke lapangan. 7. Perawatan di lingkungan sekitar tanaman mutlak dilakukan, terutama cabang air (wiwilan), penyiangan gulma, dan pengaliran air yang tergenang. Semua faktor tersebut merupakan bagian dari tindakan pencegahan, yang ditujukan agar lingkungan sekitar tanaman tidak lembab, mengingat patek (antraknose) disebabkan oleh jamur yang perkembangannya sangat didukung oleh lingkungan yang lembab. 8. Memusnahkan bagian tanaman,baik daun, batang atau buah yang terinfeksi. 9. Lakukan penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (terong, tomat dll.) atau tanaman inang lainnya. 10. Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya. 11. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman, sehingga kelembaban tidak begitu tinggi. Disamping itu penggunaan mulsa plastik untuk menghindari penyebaran spora melalui percikan air hujan. 12. Gunakan jarak tanam yang agak lebar yaitu sekitar 65–70 cm (lebih baik 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar. 13. Tambahkan unsur Kalium dan Kalsium untuk membantu pengerasan buah cabai. 14. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi. Sebaiknya gunakan pupuk dasar NPK yang rendah kandungan nitrogennya dengan kocoran karena unsur N akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman. 15. Hindarkan menanam cabai berdekatan dengan tanaman cabai yang sudah terkena lebih dahulu oleh antraknos / patek, ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi. 16. Pengelolaan drainase yang baik terutama di musim penghujan, dengan cara meninggikan guludan tanah. Sumber : Iptek Hortikultura Vol 10 Tahun 2014 oleh Hasyim, A, Setiawati, W, dan Liferdi

Senin, 06 Agustus 2018

Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot

Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot tidaklah susah, sama seperti kita memelihara tanaman lainnya. Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot tidak ubahnya seperti kita menanam bunga, dari memilih benih atau bibit bunga, kemudian menyiapkan media tanamnya yaitu wadah plastik (polybag) atau pot dan tanahnya yang dicampur pupuk organik atau pupuk kandang. serta menanam bibit bunga dan merawatnya hingga menghasilkan bunga yang diinginkan. Ikuti Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot yang saya lakukan yang sebelumnya belum pernah menanam cabai rawit tetapi sekarang cabai rawit itu telah berbuah sempurna. Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot yang saya terapkan berawal dari sebuah riset sederhana, di mana ketika kita hidup di perkotaan atau hidup di perumahan yang lahan nya sempit dan terbatas kita bisa melihat berbagai tumbuhan baik tanaman bunga atau tanaman buah jarang sekali diserang penyakit. Hal ini berbalik 180 derajat ketika saya pulang kampung di mana tanaman apa pun jenisnya pasti akan diserang penyakit, seperti pohon mangga yang tumbuh di samping rumahku di kampung batangnya tidak pernah normal karena diserang hama penggerek batang namanya, jadi batangnya atau dahannya selalu patah dan lama-lama pohonnya kan mati. Kemudian saya memilih tanaman cabai rawit karena buah yang satu ini tidak akan terlepas dari kehidupan manusia, dan harganya kadang-kadang menjadi isue yang hot sesuai dengan rasanya, intinya tumbuhan ini vital bagi kehidupan saya dan para pencinta gorengan. Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot saya lakukan dalam beberapa tahapan : 1. Saya membaca beberapa referensi dari internet dan juga melihat video berbagai teknik atau Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot di youtube. 2. Membeli benih ditoko pertanian, jika kita awam jangan sungkan-sungkan bertanya atau berkonsultasi dengan pemilik kios penjual alat , obat dan benih-benih pertanian, cari benih yang unggul. 3. Sambil membeli benih kita juga bisa membeli alat-alat yang kita butuhkan seperti plastik polybag untuk penyemaian benih dan penanaman cabai rawit, pupuk anorganik, alat penyemprot hama dan juga obatnya. 4. Menyemai benih cabai rawit dengan menggunakan polybag yang kecil. 5. Sambil menunggu bibit cabai rawit berumur sekitar 3 – 6 minggu kita menyiapkan tempat penanaman dalam polybag besar. 6. Setelah bibit cabai rawit siap tanam, maka kita pasang sanitasi atau cara pengairan menggunakan pipa dan selang yang terhubung dengan bak penampungan air. 7. Masa perawatan adalah masa yang sangat menyenangkan dan membosankan, karena kita harus rajin menyirami dan juga memberantas hama yang menyerang. 8. Perawatan Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot dengan proses yang baik akan menghasilkan panen yang maksimal. Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot Cara Budidaya Cabai Rawit dalam Polybag atau Pot bisa anda coba, jika anda mau berhenti membeli cabai yang harganya kadang menguras kantong.

Senin, 09 Juli 2018

BUDIDAYA JERUK


Jeruk Minim Biji Asli Indonesia
Badan Puslitbang Hortikultura Pertanian memperkenalkan 2 varian jeruk yang diharapkan mampu menyaingi hadirnya jeruk-jeruk impor yang membanjiri Indonesia.
Tingginya jumlah import produk hortikultura, salah satunya buah jeruk, yang pada data Badan Karantina tercatat sebesar 171.858,9 ton membuat Badan Puslitbang Hortikultura Pertanian terus berupaya mencari terobosan baru dan meningkatkan daya saing agar tetap bisa bertahan di negeri sendiri.
Bertempat di Jakarta Convention Center, Kepala Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika, Puslitbang Hortikultura, Dr. Ir. Hardiyanto, M.Sc, memperkenalkan kedua varietas baru tersebut. Kedua varietas tersebut adalah jeruk keprok soe seedless dan jeruk pamelo nambangan seedless. Varietas jeruk dengan jumlah biji yang minim.
“Jeruk keprok soe seedless ini berasal dari Kabupaten Timor Tengah, NTT. Warna kulitnya oranye kemerahan. Rasanya manis, sedikit asam, dengan tingkat kemanisan 9-12 brix. Bijinya kurang dari lima. Produktivitasnya 20-40 kg/pohon/tahun. Area pengembangannya dataran tinggi 800-1200 mdpl, beriklim kering,” terangnya.
Selain jeruk keprok soe seedless, pria lulusan Universitas Brawijaya Malang dan University of the Philippina ini juga menjelaskan spesifikasi jeruk pamelo nambangan seedless. Jeruk asal Kabupaten Magetan Jawa Timur yang dibalut dengan warna kulit hijau kekuningan ini memiliki rasa manis tanpa getir, dengan tingkat kemanisan 12 brix. Daging buahnya yang merah memiliki biji tidak lebih dari lima.
Mengenai area pengembangannya, Hardiyanto menjelaskan buah ini mampu berkembang di dataran rendah 0-300 mdpl, beriklim kering. Tingkat produktivitasnya mencapai 150-200 kg/pohon/tahun.

PEMANGKASAN TANAMAN JERUK



TEKNIS PEMANGKASAN TANAMAN JERUK SIAM.

Tanaman jeruk memerlukan pemangkasan untuk mendapatkan bentuk (penampilan) tanaman yang baik, atau memperoleh percabangan yang ideal dan seimbang.

Seluruh tajuk akan secara merata menerima sinar matahari yang diperlukan untuk pembungaan dan kesehatan, yang selanjutnya berpengaruh pada produksi.

Ada 3 macam pemangkasan pada tanaman jeruk yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan pengaturan produksi.

PEMANGKASAN BENTUK
Pemangkasan bentuk bertujuan untuk mendapatkan bentuk tanaman seperti yang diinginkan (tajuk rendah dan melebar). Pemangkasan ini dilakukan sejak tanaman jeruk berumur 3-6 bulan atau tanaman sudah tumbuh subur dengan cabang yang banyak.

Pemangkasan bentuk dilakukan sebagai berikut :

1.Pada tahun pertama jarak tajuk pertama dengan permukaan tanah 50-80 cm. Tiap pohon disarankan memiliki 3-4 cabang utama yang baik.
2.Pada tahun kedua, dari cabang utama dipelihara 3-4 cabang. Pada saat pembentukan cabang utama hendaknya tidak dipelihara tanaman yang bercabang dua (cagak) atau cabang yang sama tinggi, agar batang tidak terbelah bila kena angin atau bila berbuah lebat.
3.Pada tahun ketiga, dari cabang kedua dipeliahara 4-6 cabang ynag baik. Sebelum tahun keempat bunga yang tumbuh sebaiknya dipetik atau dibuang.
4.Pada tahun keempat, dari cabang ketiga seluruh cabang yang sehat dipelihara sedang yang tidak baik dibuang. Pada saat ini tanaman sudah mulai berbuah, setiap ranting yang berbuah sebaiknya dilindungi daun paling sedikit lima helai.


PEMANGKASAN PEMELIHARAAN

Pemangkasan ini disebut juga pemangkasan biasa, dilakukan setiap tahun baik terhadap tanaman jeruk yang belum menghasilkan maupun yang sduah menghasilkan.

Pemangkasan dilaksanakan pada setiap permulaan musim hujan, bekas pemangkasan dilumuri dengan parafin agar tidak terkena infeksi bakteri.

Bagian-bagian tanaman yang haru dipangkas adalah :

1.Tunas yang tumbuh searah batang pokok.
2.Ranting yang tumbuh ke dalam.
3.Ranting yang bertumpang tindih.
4.Ranting yang mulai mengering dan sudah mati.
5.Ranting yang sudah tumbuh pada batang bawah.
6.Cabang yang tumbuh dekat dengan tanah.
7.Cabang yang menunduk ke bawah.
Apabila tanaman telah mencapai tinggi 3 meter – 5 meter, ujung tanaman selalu dipangkas supaya tingginya tetap.

Demikian juga kalau tajuk sudah saling bertemu, ujung cabang juga perlu dipangkas pada batas yang kulitnya berwarna hijau keabu-abuan agar tumbuh ranting yang sehat.


PEMANGKASAN PENGATURAN PRODUKSI

Apabila tanaman jeruk terlalu cepat tumbuh, tetapi kurang/tidak berbunga dapat diperbaiki dengan cara memangkas akar.

Pemangkasan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan dibatasi hanya akar-akar yang kecil saja, pemangkasan akar yang besar dan dalam jumlah banyak akan mengakibatkan tanaman kurang baik tumbuhnya atau bahkan mengakibatkan kematian.

Tanaman yang sangat rindang tumbuhnya biasanay produksinya kurang untuk itu selain pemangkasan akar perlu dilakukan pemangkasan terhadap batang, cabang dan daun.

Untuk memperoleh buah jeruk yang berukuran besar perlu dilakukan pemangkasan buah atau penjarangan buah, karena pohon yang berbuah terlalu lebat akan mengakibatkan ukuran buahnya kecil dan dapat merusak dahan.

Pada kegiatan pemangkasan ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memperoleh hasil yang baik. Dahan yang besar jangan sampai terbelah karena kan menjadi sarang penyakit. Pemangkasan dilakukan dengan alat yang tajam (sebaiknya gunting pangkas atau gergaji).

Luka bekas potongan gergaji sebaiknya dilicinkan dengan pisau tajam. Luka yang besar harus dilumuri dengan parafin, lilin, cat putih atau ter kayu. Selanjutnya dahan dan daun sisa pemangkasan sebaiknya dibakar agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit.

Sumber: Lolit Jeruk tlekung malang

Senin, 04 Juni 2018

MEMILIH BIBIT JERUK YANG BENAR

Bagaimana Memilih Bibit Jeruk yang Benar Kesalahan memilih bibit jeruk akan mengakibatkan pemeliharaan tanaman akan sulit dilakukan secara optimal karena pertumbuhan tananaman di lapangan menjadi sering lambat dan bahkan berhenti, dan selain itu menimbulkan kekecewaan pada petani karena pada saat pohon mulai berbuah hasilnya tidak seperti apa yang diharapkan. Bibit jeruk keprok SoE yang bermutu adalah bibit berlabel biru karena bibitnya telah dinyatakan bebas dari penyakit sistemik (CVPD dan lainnya) dan dijamin kebenarannya serta kemurniannya oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih, jadi jika petani ingin menanam jeruk keprok SoE atau menyulam tanaman jeruk sakit yang sudah dibongkar, maka gunakan bibit berlabel biru. Terdapat dua cara memproduksi bibit jeruk berlabel biru, yaitu dalam polibag dan bedengan. Pembibitan jeruk di polibag dimulai dari pemindahan semaian batang bawah, okulasi, dan pemeliharaan hingga bibit okulasi siap siar seluruhnya dilakukan di polibag. Pembibitan di bedengan dimulai dari pemindahan semaian batang bawah, okulasi, dan pemeliharaan hingga bibit okulasi siap siar atau ditanam di lapang dilakukan di bedengan. Bibit jeruk yang berasal dari bedengan dan setelah dipindahkan ke polibag kemudian mengeluarkan tunas pucuk baru, biasanya sekitar 2 bulan kemudian, dan bibitnya bisa disebut bibit yang diproduksi di polibag. BPSB akan memeriksa secara periodik tahapan penting proses produksi bibit jeruk keprok SoE sebelum dinyatakan lulus dan diberi label biru. Cara Memilih Bibit Bermutu a. Bibit jeruk bermutu keragaannya tegak, batang bibit lurus tidak bengkok, daun hijau segar, dan tidak sedang berpupus. b. Bibit polibag siap ditanam setelah minimal mempunyai tinggi 50 cm dari pangkal batang c. Bibit bedengan yang ditransplanting di polibag siap ditanam setelah mempunyai tinggi minimal 70 cm dari pangkal batang dan pupus barunya telah tumbuh sempurna. d. Bibit telah dilabel biru Bibit jeruk dalam polibag mempunyai sistem perakaran utuh sedangkan bibit dari bedengan yang dipindahkan ke polibag sistem perakarannya tidak utuh lagi. Setelah ditanam di lapang, bibit dari polibag biasanya tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan bibit yang diproduksi di bedengan sumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur

Senin, 07 Mei 2018

BUDIDAYA JAGUNG MANIS

BUDIDAYA JAGUNG MANIS

Jagung manis (Zea mays saccharata) adalah tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit dibanding jagung biasa. Namun dilihat dari nilai jualnya, jagung manis menawarkan harga yang lebih baik sehingga sangat digemari oleh masyarakat karena dapat dikonsumsi langsung seperti jagung rebus atau jagung bakar, dan pemasaran jagung manis terbuka sampai ke tingkat retail.
Budidaya jagung manis bisa dilakukan dalam kisaran iklim yang luas. Tanaman ini memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Di Indonesia jagung manis bisa dibudidayakan mulai dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 1.800 meter dpl bahkan dibelahan dunia lain bisa tumbuh pada 3.000 meter dpl. Suhu ideal untuk pertumbuhan jagung manis adalah 21-30 oC. Secara teori budidaya jagung manis bisa tumbuh di atas tanah dengan tingkat keasaman (pH) 5-6.
Budidaya jagung manis tidak akan maksimal apabila kebutuhan hara tidak tercukupi, tanaman ini memerlukan unsur nitrogen (N) dalam jumlah besar. Namun pemberian pupuk harus memperhatikan keseimbangan antara nitrogen, kalium (K) dan pospat (P).
Pengolahan lahan secara organik
Budidaya jagung manis bisa ditanam di lahan bekas sawah secara langsung atau bisa dibuat bedengan. Usahakan agar lahan tidak tergenang air. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 20-30 cm, jarak antar bedengan sebesar 30 cm. Dalam satu bedeng bisa ditanam dua larik tanaman.
Pemupukan
Pemupukan dasar untuk budidaya jagung manis organik sebaiknya campuran dari pupuk kotoran ayam dengan kotoran sapi atau kambing dengan komposisi 1:1. Pupuk kotoran ayam memberikan kadar N yang banyak dan lebih cepat terurai, sedangkan pupuk kotoran sapi atau kambing lebih kaya akan K dan P. Kebutuhan pupuk dengan metode organik adalah sekitar 5 ton per hektar.
Penanaman dan perawatan
Penanaman jagung manis paling efektif dengan cara ditugal. Buatlah lubang sedalam 2-3 cm kemudian masukkan 2 butir benih jagung. Setelah itu tutup dengan tanah dan kompos, kemudian siram agar kelembaban tanah terjaga. Kebutuhan benih budidaya jagung manis adalah 8 kg per hektar. Jarak tanam pada budidaya jagung manis adalah 60-75 cm. Jarak tanam ini mengikuti jumlah populasi ideal tanaman. Budidaya jagung manis akan menuai hasil baik dengan menjaga populasi tanaman sebanyak 34.000 - 37.000 tanaman per hektar.
Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang banyak ditemukan dalam budidaya jagung manis antara lain penggerek, penggerek tongkol, belalang, kutu daun dan tikus. Berikut sifat-sifat hama pada tanman jagung manis:
• Penggerek batang jagung (O. furnacalis), hama ini menyerang tanaman pada vase vegetatif maupun generatif. Kerusakan tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk mendapatkan makanan. Penggerek batang jagung bisa dikendalikan secara teknis dengan mengatur rotasi tanam seperti dengan kedelai dan kacang tanah. Selain itu bisa juga dengan dengan memotong bunga jantan dan menerapkan waktu tanam yang tepat. Pembasmian hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma spp. atau predator alami Euborellia annulata yang memangsa larva.
• Ulat Tongkol (H. armigera), hama ini menyerang tongkol jagung. Pada awalnya imago meninggalkan telur pada rambut-rambut jagung. Setelah larva tumbuh akan masuk kedalam tongkol. Hama ini mempunyai kebiasaan berpindah-pindah, sehingga kerusakan yang ditimbulkan pada tongkol jagung bisa lebih banyak dibanding jumlah larvanya. Pencegahan terhadap hama ini adalah dengan menerapkan pengolahan tanah yang baik. Pengolahan tanah yang baik akan mengurangi populasi ulat tongkol berikutnya. Musuh utama dari hama ini adalah Trichogramma spp. yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa parasit pada larva muda.
• Kutu Daun (R. maidis), hama ini mengeluarkan embun madu pada daun yang berubah menjadi jelaga warna hitam. Noda-noda tersebut akan menghambat daun melakukan fotosintesis. Musuh alami hama ini adalah Lysiphlebus mirzai, Coccinella sp. dan Micraspis sp. Kultur teknis yang bisa dilakukan untuk menghindari serangan hama ini dengan melakukan polikultur tanaman atau menumpang-sarikan jagung manis dengan tanaman lain.
• Belalang (Oxya spp.), hama ini banyak berkembang didataran rendah yang berupa padang rumput atau pesawahan. Beberapa musuh alami belalang adalah Systoechus sp., burung dan laba-laba. Selain itu patogen seperti Metarhizium anisopliae merupakan musuh belalang. Metarhizium anisopliae merupakan bahan biopestisida yang sanggup mengendalikan 70-90% hama belalang.
• Tikus (Rattus argentiventer), hama ini biasanya menyerang tanaman jagung manis yang ditanam di lahan sawah. Tikus memakan tongkol muda yang sedang matang susu, umumnya tikus memakan tongkol dari ujung hingga pertengahan pangkal. Pengendalian hama tikus secara organik adalah dengan memburu dan membasmi tikus dari sarangnya.
Disamping hama, budidaya jagung manis tidak terlepas dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun cendawan. Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman jagung manis terutama yang ditanam di daerah tropis:
• Bule (Peronosclespora Maydis), gejala penyakit bule adalah permukaan daun bergaris-garis putih sampai kuning diikuti dengan warna coklat. Kemudian kerusakan menyerang tongkol. Penyakit ini bisa dihindari dengan pemilihan varietas benih yang tahan P. Maydis, memusnahkan tanaman terinfeksi, penanaman sesuai musim, dan rotasi tanaman.
• Karat (Puccinia sorghi), gejalanya terdapat bercak-bercak bisul berwarna coklat sampai oranye pada permukaan daun bagian atas. Bisa dikendalikan dengan pemilihan varietas benih, menjaga sanitasi kebun dan aplikasi biopestisida apabila bisul muncul pada permukaan daun.
• Hawar daun (Helminthosporium turcicum), penyakit ini menyerang daun dengan gejala awal bercak-bercak kecil berbentuk oval yang berkembang menjadi hawar berwarna coklat keabu-abuan. Biasanya serangan ditemukan pada daun tua (bawah) kemudian menjalar ke daun muda (atas). Untuk mengendalikannya gunakan varietas yang tahan, pengolahan tanah yang baik, penyiangan dan pengaturan jarak tanam. Pada budidaya jagung manis non-organik bisa diaplikasikan fungisida.
Panen
Jagung manis dapat dipanen setelah berumur 65-75 hari. Dengan ciri klobot (bungkus janggel jagung) berwarna coklat muda dan kering serta bijinya mengkilat. Pemetikan jagung manis sebaiknya dilakukan pada pagi hari, karena udara panas cendrung dapat mengurangi kadar gula pada biji jagung manis. Untuk mempertahankan kadar gula lebih lama, selepas panen dari kebun harus segera masuk ke ruang pendingin pada temperatur 1-5 oC.

Senin, 05 Juni 2017

Varietas Padi untuk Penderita Diabetes

Varietas Padi untuk Penderita Diabetes Anda, keluarga, atau teman anda penderita diabetes? Mungkin artikel ini dapat menjadi info penting yang dapat disampaikan kepada para penderita diabetes. Menurut catatan WHO pada tahun 2010, jumlah penderita diabetes di dunia ±346 juta orang, 80% diantaranya berada di negara berkembang. Indonesia termasuk peringkat ke-9 terbanyak jumlah penderita diabetes. Salah satu penyebab tingginya penderita diabetes di Indonesia adalah masih tingginya konsumsi nasi putih yang merupakan makanan pokok, tentunya dibarengi dengan rendahnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai gizi berimbang yang dibutuhkan oleh tubuh. Konsumsi nasi putih dengan indeks glikemik (IG) yang tinggi dapat meningkatkan kandungan gula dalam darah. Penderita diabetes melakukan diet dengan pangan alternatif yang memiliki IG rendah. Selama ini, beras yang mengandung IG rendah dan dianjurkan oleh pakar kesehatan untuk penderita diabetes adalah beras merah. Saat ini, terdapat beberapa varietas padi yang memiliki IG rendah. Hasil pengujian beberapa varietas padi dugaan IG rendah, tekstur nasi pulen-sedang, yaitu Ciherang, Situ Patenggang, Hipa 7, Inpari 1, dan Inpari 13. Varietas beras merah Aek Sibundong memiliki IG sedang tetapi mengandung antosianin yang berguna untuk mencegah komplikasi diabetes dengan mengurangi pembentukan kolagen abnormal pada pembuluh darah akibat ikatan gula dalam darah dengan protein, mencegah kerusakan sistem limfa, mencegah proliferasi protein abnormal yang dapat menyebabkan kebutaan, dan meningkatkan adipocytokine geneexpression, jika terjadi disfungsi dapat menyebabkan resistensi insulin. Selain itu, antosianin dapat meningkatkan produksi insulin hingga 50%.

Minggu, 12 Mei 2013

RKD



Format RKD
Nama Desa : .........................................
Nama Kecamatan  : ..............................
I.                    Pendahuluan
Menjelaskan keadaan aktual dan potensial berkaitan dengan agroekosistem dan agrobisnis kelompok
II.                  Rumusan Visi Desa
III.                Masalah
IV.                Kalender Kegiatan
Rencana Kegiatan Penyuluhan Tingkat Desa
No
Uraian kegiatan
Bulan
Pelaksana
Biaya
Ket.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12